Sedikit tentang Sejarah Sunda

Berdasarkan data dan penelitian arkeologis, Tanah Sunda telah dihuni oleh masyarakat Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh Masehi. Situs purbakala di Ciampe’a (Bogor), Klapa Dua (Jakarta), dataran tinggi Bandung dan Cangkuang (Garut) memberi bukti dan informasi bahwa lokasi-lokasi tersebut telah ditempati oleh kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian, pola pemukiman, dan lain sebagainya sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat manusia betapapun sederhananya.

Era sejarah di Tanah Sunda baru dimulai pada pertengahan abad ke-5 seiring dengan dibuatnya dokumen tertulis berupa beberapa buah prasasti yang dipahat pada batu dengan menggunakan Bahasa Sansekerta dan Aksara Pallawa. Prasasti-prasasti itu yang ditemukan di daerah Bogor, Bekasi dan Pandeglang dibuat pada zaman Kerajaan Tarumanagara dengan salah seorang rajanya bernama Purnawarman dan ibukotanya terletak di daerah Bekasi sekarang. Pada masa itu sampai abad ke-7, sistem kerajaan sebagai merupakan pemerintahan, Agama Hindu sebagai agama resmi negara, sistem kasta sebagai bentuk stratifikasi sosial, dan hubungan antar negara telah mulai terwujud, walaupun masih dalam tahap awal dan terbatas.

Sriwijaya di Sumatera, India dan Cina merupakan negeri luar yang menjalin hubungan dengan kerajaan Tarumanagara, tetapi kebudayaan Hindu dari India yang dominan dan berpengaruh di sini. Sunda sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke-8 sebagai lanjutan atau penerus Kerajaan Tarumanagara. Pusat kerajaannya berada di sekitar Bogor sekarang.

Paling tidak, ada tiga macam sumber yang menyebut Sunda sebagai nama kerajaan. Pertama, dua buah prasasti (Bogor dan Sukabumi); kedua, beberapa buah berita orang Portugis (1513,1522,1527); dan ketiga, beberapa buah naskah lama (Carita Parahiyangan, Sanghyang Siksa Kanda’ng Karesian). Ibu kota Kerajaan Sunda dinamai Pakuan Pajajaran.

Dalam tradisi lisan dan naskah sesudah abad ke-17, Pakuan biasa disebut untuk nama ibukota, sedangkan Pajajaran untuk menyebutkan kerajaan. Kerajaan ini hidup kira-kira 6 abad, karena runtuhnya sekitar tahun 1579. Pernah mengalami masa kejayaan yang antara lain ditandai dengan luas wilayah yang meliputi seluruh Tatar Sunda, kesejahteraan rakyat tinggi, keamanan stabil, hubungan dengan dunia luar (Majapahit, Portugis, Sriwijaya) berjalan baik. Dikenal ada dua raja termasyhur kebesarannya (Prabu Niskala Wastukancana dan Sri Baduga Maharaja). Ibukotanya pernah berada di Kawali, Galuh. Pada masa pemerintahan Prabu Maharaja (1350-1352) terjadi konflik dengan Majapahit, karena masalah pernikahan puteri Sunda dengan raja Majapahit Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) dan puteranya, Prabu Surawisesa, (1521-1535) terjalin hubungan kerjasama ekonomi dan keamanan antara kerajaan Pajajaran dengan Portugis yang berkedudukan di Malaka.

Dari kerajaan ini dihasilkan beras dan lada yang banyak sehingga bisa diekspor. Kota pelabuhan yang besar antara lain Banten, Kalapa (Jakarta sekarang), dan Cirebon. Sistem ladang merupakan cara bertani rakyatnya. Ada jalan raya darat yang menghubungkan ibukota kerajaan dengan Banten di sebelah barat, Kalapa disebelah utara, serta Cirebon dan Galuh di sebelah timur. Dari daerah pedalaman ke pesisir utara dihubungkan dengan jalur lalulintas sungai dan jalan menyusuri pantai.

Para pedagang Islam sudah berdatangan ke kota-kota pelabuhan Kerajaan Sunda untuk berdagang dan memperkenalkan agama Islam. Lama kelamaan para pedagang Islam bermukim di kota-kota pelabuhan Sunda, terutama di Banten, Karawang, dan Cirebon kemudian penduduk setempat banyak yang mengnanut Agama Islam. Bberkat dukungan Kesultanan Demak, berdirilah kekuasaan Islam di Cirebon dan Banten yang dalam perkembangan selanjutnya mendesak kekuasaan Kerajaan Sunda sampai akhirnya menumbangkannya sama sekali (1579). Sementara di daerah pesisir berkembang kekuasaan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Sedangkan di daerah pedalaman muncul kabupaten-kabupaten yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: Sumedang, Galuh, Sukapura, Limbangan, Parakanmuncang, Bandung, Batulayang, dan Cianjur.

Periode selanjutnya (sejak abad ke-17) Sejarah Sunda mengalami babak baru, karena dari arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan Kompeni Belanda (sejak 1610) dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram (sejak 1625). Secara perlahan-lahan tetapi pasti akhirnya seluruh Tanah Sunda jatuh ke genggaman kekuasaan Belanda (sejak awal abad ke-19), karena itu mulailah zaman kekuasaan kolonial Hindia Belanda.

Pada masa ini masyarakat dan Tanah Sunda dieksploitasi oleh kaum kolonial, mula-mula dengan menggunakan cara penyerahan wajib hasil bumi tanaman ekspor (lada, nila, kopi) dan kerja paksa (rodi) yang dikenal dengan sebutan Sistem Priangan (Preanger Stelsel); kemudian sejak tahun 1871 melalui cara penanaman modal swasta dengan membuka macam-macam perkebunan (teh,karet,kina), perdagangan, industri, pelayaran, pertambangan, dan lain-lain yang tenaga kerjanya (tenaga kerja murah ) diambil dari masyarakat pribumi; model eksploitasi ini dikenal dengan sebutan Sistem Imprealisme.

Tanah Sunda yang subur dan orang-orangnya yang rajin bekerja menjadikan pengeksploitasian tersebut sangat menguntungkan penguasa kolonial sehingga membawa kemakmuran yang luar biasa bagi mereka yang tinggal di sini dan yang berada di tanah leluhur mereka (Belanda). Sebaliknya rakyat pribumi tidak mengecap keuntungan yang setimpal dengan tenaga dan jasa yang diberikan, bahkan banyak yang hidupnya menderita; kecuali sekelompok masyarakat kecil yang dekat dan bekerjasama dengan penguasa kolonial yang biasa disebut kaum Menak.

Pada sisi lain masuknya penjajahan itu menimbulkan ketidakpuasan dan bahkan penentangan sebagian masyarakat. Dibawah beberapa orang pemimpinnya timbullah serangkaian perlawanan dan pemberontakan rakyat, seperti, yang dipimpin oleh Dipati Ukur di Priangan (1628-1632), Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya di Banten (1659-1683), Prawatasari di Priangan (1705-1708), Kiai Tapa dan Bagus Buang di Banten (1750-1752), Bagus Rangin (1802-1818) Kiai Hasan Maulani di Kuningan (1842), Kiai Washid di Banten (1888), Kiai Hasan Arif di Garut (1918).

Ketidakpuasan masyarakat terus berlanjut, walaupun penguasa kolonial mengupayakan perbaikan kehidupan masyarakat melalui program pendidikan, pertanian, perkreditan, dan juga menerapkan sistem otonomi bagi pemerintahan pribumi. Sejak awal abad ke-20 muncul gerakan penentang sosial dan organisasi politik seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Paguyuban Pasundan dan Partai Nasional Indonesia.

Melalui pendudukan Militer Jepang (1942-1945) yang menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda (menyerah di Kalijati, Subang tanggal 8 Maret 1942) dan menumbuhkan keberanian di kalangan orang pribumi untuk melawan kekuasaan asing dan memberi bekal ketrampilan berperang; pada tahun 1945 masyarakat Sunda, umumnya masyarakat Indonesia, berhasil mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Sejak itu masyarakat dan tanah Sunda berada dalam lingkungan negara Republik Indonesia.

Seiring bergulirnya perobahan sistem pemerintahan yang tadinya unitaristik-sentralistik menjadi otonomi-desentralistik, maka kini saatnyalah bagi Masyarakat Sunda untuk membuktikan kesungguhan perjuangannya dalam mewujudkan Tatar Sunda anu Tata-Tengtrem Karta Harja sebagai kontribusi Ki Sunda kepada negara Republik Indonesia.

Kenyataan lain, yaitu pemekaran Propinsi Jawa Barat dengan terbentuknya Propinsi Banten. Walau demikian tetap saja kedua propinsi itu masih dalam ikatan Tatar Sunda. Untuk terjalinnya ikatan batin yang kuat perlu ditumbuhkan antara lain melalui kesadaran atas adanya kesamaan Religi (dalam hal mayoritas Urang Sunda beragama Islam). Selain itu harus adanya kesadaran akan nilai-nilai pandangan hidup yang Nyunda, kesadaran akan alur sejarah Sunda yang tidak terputus serta kesadaran untuk memelihara Bahasa Sunda dan bahasa dialek setempat agar tetap digunakan di setiap keluarga Sunda.

Buku tentang Sejarah Sunda yang lebih rinci bisa disimak antara lain Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. 4 jilid – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemda Tk I Jabar, 1983-1984.

Samsung Galaxy R Versi Murah Galaxy S2 Spesifikasi Layar 4.2 Inci & Kamera 5MP


Baru-baru ini muncul video demonstrasi Samsung Galaxy R di internet. Dari video tersebut, terlihat bahwa Galaxy R adalah versi murah dari Samsung Galaxy SII.
Ponsel ini menggunakan Android 2.3 Gingerbread sebagai sistem operasinya, dilengkapi dengan layar LCD 4.2 inci, serta menggunakan prosesor dual core Tegra 1 GHz.
Kamera 5 megapiksel yang terpasang di ponsel ini memberikan kualitas video rekaman HD 729p. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Galaxy S II yang memiliki kamera 8MB.
Pun halnya seperti Galaxy SII, ponsel ini mendukung social hub, games hub, reader hub dan music hub. Selain itu ada juga sarana wifi, GPS, FM Radio, 8GB memori internal, serta slot micro SD yang dapat diupgrade hingga 32 GB.
Samsung mengatakan bahwa ponsel ini akan segera diluncurkan, terutama di Eropa, Timur Tengah, dan Cina. Belum jelas berapa harga yang dipatok Samsung untuk ponsel ini. Kita tunggu saja kapan ponsel ini hadir di Indonesia.

Videokeman

videokeman mp3
American Idiot – Greenday Song Lyrics

Post Comments Using Twitter and Facebook (via WordPress.com News)

Post Comments Using Twitter and Facebook Starting today, visitors to your blog can use their Facebook or Twitter account to leave comments. This saves everyone a few steps and gives visitors control over which identity they use.  It's a win for everyone. As an important touch, we let you stay logged in to multiple services. This means you can stay logged in to Facebook for convenience, but still leave a comment through Twitter or your WordPress.com account. Just click whichever identity … Read More

via WordPress.com News

Cara Ganti Template WordPress (via Solo Cyber City)

Cara Ganti Template WordPress Buat teman-teman yang masih bingung Cara Ganti Template WordPress nih ada cara paling guampang, misal mo ganti keq punya saya sekarang nih… buat yang udah jago plis deh biar adik-adik kita ni belajar dulu yah ixixix :D  Caranya : Setelah Login  cari "Tampilan" -> "Tema" pilih "Small Potato" keq gambar bawah tuh… Dah selesai… guampang toh…?😀 Kalo berkenan silahkan di copas Artikel Terkait : Cara Daftar Blog WordPress Cara Ganti Templa … Read More

via Solo Cyber City

Get more readers by Publicizing on Facebook, Twitter, and now LinkedIn, Too! (via WordPress.com News)

Get more readers by Publicizing on Facebook, Twitter, and now LinkedIn, Too! Want to share your WordPress.com posts with your LinkedIn connections? Now you can! Today we are happy to announce that our Publicize feature connects with LinkedIn. To activate Publicize for LinkedIn, head to Settings -> Sharing in your dashboard and click Connect to LinkedIn. Please note that you need to have a LinkedIn account before you can connect it with your WordPress.com site. After you've approved the connection, you'll see LinkedIn l … Read More

via WordPress.com News

sumpah aing teu cemburu da #masia weh

sumpah aing teu cemburu da #masia weh

Waktu eta teh s “Bedul” ngangge motor bade ka kota pas di parapatan aya sora nu niup piriwit. Teu disangka nu niup piriwit teh ya eta polisi, si Bedul teuinang mokaha maneh na komplit make helem ieuh.

Langsung be maneh na eren. Terus yampeurkeun eta polisi nu ngaeureun keun manehna

Bedul: “Ku naon pa abi di eureun keun??”
Polisi: “Arek mariksa”
Bedul : “Mariksa naon ?? Da abi mah teu nyandak NARKOBA………..
Polisi: “lain eta maksud saya mah”
Bedul: “Atuh naon ? Lain eta mah make di pariksa sagala”
Polisi: “Ari SIM na mana ??”
Bedul: “Oh eta maha bi can gaduh pa!”

Kacaritakeun s Bedul di tilang be ku polisi. Hiji mansa s bedul mawa motor deuio ngaliwat parapatan deui. Si Bedul teu reuwaseun da mokaha maneh na ayeuna mah bogaeun SIM

Langsung maneh na eureun

Bedul: “Aya naon deui pa ??? SIM aya …. motor komplit Naon deui pa?”

Polisi: “maneh teu pakai helem… Kapaksa ku saya maneh di tilang…”

Poe isuk na Si Bedul leumpang alias jalan jalan sorangan. Pas kabeuneuran papanggih jeung polisi nu sok. Biasa nilang maneh na.Celetuk sibedul nanya ka eta polisi

Bedul: “Pa? Ku naon abi teu dipariksa ku bapa? SIM aya helem di angge”

Polisi: “Maneh na teu mawa motorrrrrrrrrrrra???”

Bedul: “Ohhh euya ya… geuning aing bolohoy!”

Si Bedul ngaleos eraeun bari maneh na neunggeulan sirah sorangan…

Dongeng Jurig

POÉ geus reup-reupan. Reketek Mang Linta mageuhan beulitan sarung dina cangkéngna. Awakna ngan dibungkus kaos oblong doang. Ka handapna calana komprang. Manéhna geus siap-siap rék muru ranggon pangancoanana di tengah kali. Sanggeus sagalana bérés mah léos mangkat bari ngajingjing korang.

Cai laut anu mimiti pasang mimiti ngarayap ka girang. Di beulah kulon layung kari sadalis. Geuleuyeung, Mang Linta nyorongkeun sampanna ka tengah kali, diwelah lalaunan. Teu lila ge nepi ka handapeun ranggon.
Sabot nalikeun sampanna kana tihang ranggon parantina, layung tilem dina poékna peuting.

Barang nyedek ka isa, poék mani meredong. Pantes bé da bulan kolot, manjing ka lilikuran. Jaba geus ti beurang kénéh teduh angkleung-angkleungan, kos geus deukeut ka usum hujan.

Di saung ranggonna, di tengah kali, Mang Linta nganco dicaangan ku lampu gantung nu caangna mérékététét. Pikirna, sugan peuting ieu mah loba hurang nu kabawa palid ku cai pasang. Bari memener tali ancoanana,
pangangguran manehna nelek-nelek ranggon-ranggon nu séjén. Katoong paroék. Aya gé ka beulah girangna, célak-célak. Ka marana nu ngaranco téh? Gerentes Mang Linta.

Geus tilu kali ngangkat, encan baé nyugemakeun haténa. Kalah hayoh wé boboso nu kasair ku ancona téh. Geus lima. Rada beulah kénca – okosna mah rada beulah sisi –kadéngé ku Mang Linta kos aya nu keur ngajala.
Manéhna ngintip tina sela-sela hateup ranggon. Enya bé, aya sampan nu keur ngajala, dicaangan ku lampu cempor nu dibawana. Ngan teuing saha-sahana mah, da ku Mang Linta jelemana ngan katempo belegbegna. Tetempoan Mang Linta mah aya duaan, kos awéwé jeung lalaki. Lalakina nu nébar-nébarkeun jalana, awéwéna mupulan beubeunanganana. Biasana mah nu sok duaan ngajala jeung pamajikanana mah Si Jaé. Kitu sangkaan Mang Linta téh.

Diitung-itung, sakitu geus sababaraha kali ngangkat, can aya nu mucekil baé. Bisa diitung ku ramo angkatan nu ayaan mah. Lolobana mah ngeplos deui ngeplos deui. Caina geus tiis deui kitu? Gerentes Mang Linta. Tapi
barang tungkul ka handap, kaciri kénéh nyéotna cai pasang téh ka girangkeun. Boborélakan. Ceuk itungan mah, tangéh kénéh kana surut. Didédéngékeun deuih ku Mang Linta téh, sugan aya kécépét-kécépét tenggak hurang. Bet euweuh pisan. Nu loba kadéngé mah kalah ka tenggak lauk, mani kukucibekan di ditu di dieu. Kos lauk galedé deuih tina sora tenggakna mah. Piuntungeun nu ngajala.

Mang Linta tungtungna mah lelenggutan, kateluh ku tunduh. Awakna ngajoprak, ngaréngkol dina palupuh ranggon. Tadi téh kuduna mah manéhna hanjat, tapi kapaksa nagen-nagenkeun manéh. Ari rék balik, korang pan kosong kénéh. Ceuk pikirna, boro-boro bisa setor keur urang dapur, keur ududna sorangan gé can tangtu mahi. Sugan rada peuting turunna hurang téh. Nu matak tuluy ku manéhna ditungguan, ngahagalkeun balik rada telat.

Di ranggon ancoan nu di girang téa, anu lampuna célak-célak, ayeuna mah geus pareum, tandaning geus euweuh nu nungguan. Boa kari manéhna anu masih nagen téh. Tungtungna mah Mang Linta kateluh ku tunduh. Ari hurang ager bé euweuhan.

Hiji mangsa Mang Linta ngulisik, kagandéngan ku sora kukucuprakan gigireun ranggonna. Manéhna gigisik. Lol ka luar, béntang timur geus lingsir ngétan. Piraku Si Jaé can hanjat mah, sakieu wayah geus deukeut ka janari leutik? Rét ka lampu gantung, geus pareum. Ku angin okosna mah. Ancoanana ngeueum kénéh, teu kaangkat-angkat da kasaréan.

Manéhna memener sila bari ngaringkebkeun deui sarungna kana awak, nutupan hawa tiris nu nyelesep. Lol deui, nolokeun sirahna tina lawang ranggon, hayang sidik ka sora nu kukucuprakan. Enya bé aya parahu, teu jauh ti ranggon ranggonna. Barang manéhna rék nyorowok, rék nanya saha-sahana nu di parahu, ari gujubar téh, sora aya barang beurat nu dijubarkeun ka cai. Mang Linta kerung, tuluy nyidik-nyidik deui. Ditenget-tenget téh, belegbeg parahu teu robah-robah ayeuna mah, kos nu dijangkarkeun. Rét manéhna ka handap, cai geus nyéot palid ka hilir. Ari parahu angger nagen, padahal diwelah gé henteu. Teu katempo aya gantar deuih. Okosna mah tadi nu ngagujubar téh enya sora jangkar nu dialungkeun ka kali.

Beuki heran baé Mang Linta téh. Sisinarieun aya nu paparahuan peuting-peuting bari jajangkaran sagala. Ilok nu rek ngajala atawa mancing mah? Sakieu wayah geus liwat tengah peuting. Kitu gerentes Mang Linta.
Sajongjongan mah, hayoh baé manéhna nelek-nelek parahu. Sugan enya nu rék ngajala. Jeung mun enya jelemana wawuh, rék digeroan.

Tapi ditutungguan téh, ti lebah parahu teu kadéngé sora-sora ranté jala. Boa nu mancing. Ah, enya meureun nu mancing, da katempo tina belegbegna mah kalah ka dariuk. Tapi teu lumrah deuih wayah kieu aya nu
mancing, komo di tengah mah, gerentesna deui. Biasana gé malem Minggu loba nu mancing mah. Kitu gé naragogna téh di sisi kali bae, atawa dina parahu nu dicangcangkeun di sisi muara. Langka anu ngahaja ka girang mah. Pan ayeuna mah karak malem ….. Mang Linta nginget-nginget poé. Juma’ah ayeuna téh. Enya Juma’ah. Aéh, naha aing poho-poho teuing, gerentes Mang Linta kos nu reuwas. Paingan batur-batur aing teu ngaranco, da malem Juma’ah, gerentesna deui. Tapi leuwih ngarénjag Mang Linta téh, barang ti lebah parahu nu buang jangkar téa, kadéngé sora awéwé nyikikik.

Aya kana saparapat jamna Mang Linta samar polah di jero ranggonna. Rék ngangkat ancoan, bébérés terus hanjat, sieun ngagareuwahkeun anu keur otél dina parahu. Hanjakal teu hanjat ti tatadi. Mun ti tatadi mah, waktu nu dina parahu karak jol ka dinya, moal éra atawa sieun kos ayeuna meureun mun rék hanjat téh. Ayeuna mah, sasat manéhna geus nyaksian jeung nyaho sagala rupana nu dipilampah ku awéwé jeung lalaki nu otél dina parahu téa. Atuh ari rék kaluar ti ranggon téh ayeuna mah jadi serba salah. Leuheung lamun ituna teu nanaon ka manéhna. Kumaha lamun malik nuding ngintip ka manéhna. Eta deuih, bet kabina-bina teuing nu di parahu téh, kos teu boga curiga nanaon. Parangsana aman bé meureun, da aya di tengah-tengah kali.

Tungtungna mah Mang Linta kalah ka ngahéphép baé di ranggon. Rék ngangkat ancoan gé teu wanieun, da ngeueum ti saméméh kapulesan. Panonna rét deui rét deui ka lebah parahu. Najan enya ukur reyem-reyem,
tapi tina sora jeung robah-robahna nu ngabelegbeg mah, kaciri pisan, keur naon nu di parahu téh. Wayah beuki nyedek ka janari. Hawa beuki nyecep kana kulit.

Tungtungna mah Mang Linta ngarasa kaluman. Cindeten baé téh matak ngeselkeun baé haténa. Pitunduheun gé ngadadak musna. Antukna manéhna mikir, rék néangan jalan sangkan aya alesan bisa ninggalkeun ranggon. Rét kana ancoan anu masih kénéh ngeueum. Rét deui kana parahu nu buang jangkar. Sora-sora nu matak géték kana ceulina, terus baé kadéngé. Mun aing téh bisa ngaleungit, gerentesna.

Ah, rék lah-lahan baé, gerentesna deui. Ceg kana gagang ancoan. Saméméh ancoan diangkat, manéhna narik napas heula, kos keur ngawahan. Bari ngarérét ku juru panonna ka lebah parahu, jurungkunung ancoanana
diangkat. Waringna dijungjungkeun ka luhur bari digibrig-gibrig. Séah caina nyurulung. Ti dinya mah manéhna teu wanieun deui nempo ka lebah parahu. Nagen bé sajongjongan mah, bari nahan gagang ancoan sina angger ngajungjung. Dadana mah gegebegan, bareng jeung ngerecekna sora cai nu masih nyurulung tina waring anco. Rét kana eusi anco, rada mondoyot. Ditelek-telek rada ayaan. Talina gancang dikenyang, ngarah eusi anco téh arasup kana bubu handapeunana. Kerud téh, gerentes Mang Linta, ari geus wayah kieu karak ayaan.

Karak saenggeus sora kerecek cai jempé, jeung saenggeus gagang anco ditanggeuhkeun, manéhna lalaunan ngalieuk ka lebah parahu. Puguh bé ngaranjug deui Mang Linta téh, lantaran parahu téh geus euweuh ti
tempatna. Horéng geus aya di hilir, rada jauh. Kos diwelah semu rusuh, muru muara.

Mang Linta ngarénghap. Salila-lila manéhna ngajentul baé, bari teu miduli hawa janari nu beuki nyecep.

“ABAH sia, hudang!” ceuk pamajikan Mang Linta, bari ngageubig-geubig awak salakina. Mang Linta teu gancang hudang. Kalah ka ahah-uhuh, bari angger peureum. “Yeuh, hudang! Penting!” pokna deui. “Peuting manéh balik jam sabaraha?” Mang Linta nguliat. Panonna karancam-keureunceum.
Pokna bari rada kerung, “Ku naon kitu?” “Itu batur ribut jurig!”
“Jurig naon?” Mang Linta beuki kerung. “Teuing! Pajar ranggon ancoan urang aya jurigan!” “Diandel teuing, Écih!” ceuk Mang Linta, kos horéam ngajawab, perbawa tunduh nu ngagayot kénéh dina panonna. Manéhna terus hudang, jarugjag-jarigjeug leumpang muru téko dina méja patengahan.

“Itu ceuk urang lélang,” témbal pamajikanana bari angger hariweusweus.
“Kumaha cenah?” ceuk Mang Linta bari angger kos nu horéam ngajawab.
“Ceuk Si Daud mah, Pa Mantri Pulisi nu manggihanana!” “Ah, siah!” curinghak ayeuna mah Mang Linta teh, mata bolotot kos manggih kerud. Panonna mencrong ka pamajikanana.

“Ih teu percaya mah tanyakeun ka ditu!” Bi Écih daria pisan. “Éta manéh jam sabaraha balik?” “Soré kénéh…,” Mang Linta ngabohong. “Cai surut gé aing mah terus balik. Meunang sabaraha on hurang téh?” “Sakilo satengah. Teu kurang teu leuwih!” “Uyuhan meunang gé…,” ceuk Mang Linta bari nyérang ka luar.

Pamajikanana terus baé tatanya. Panasaran okosna mah. Mang Linta mah angger, ngajawabna téh kos nu purun kos nu henteu. Lolobana mah dijawab saliwatan bae, ku ngawadul sawaréh mah. Nempo kitu mah, Bi Écih gé jadi boseneun sorangan.
“Malem naon peuting téh?” Mang Linta api-api. “Juma’ah!” témbal pamajikanana. “Pantes rék aya jurig gé!” ceuk Mang Linta bari ngagoloyoh ka luar.

Enya bé, barang ku Mang Linta dipapaykeun ka RT, nu manggihan jurig téh cenah Pa Mantri Pulisi. Lengkepna mah dongéng nu manggihan jurig téh kieu. Pa Mantri peuting éta ngersakeun mancing di kali. Malah cenah
hayang di tengah mancingna téh. Ka RT ménta disadiakeun parahu. Mancingna dibarengan ku upas kacamatan. Tah, waktu keur anteng mancing di tengah téa, ujug-ujug aya nu ngajurungkunung ti jero cai, di
ranggon ancoan nu teu jauh ti dinya.

Salila ngadéngékeun, reuwas aya hayang seuri aya Mang Linta téh. “Enyaan duaan jeung upas mancingna?” pokna ka RT. “Apan aing mah nyaksian pisan koloyongna?” témbal RT. “Naha RT teu milu maturan atuh?”
“Ngajakan mah ngajakan Pa Mantri téh,” ceuk RT bari ngabéléhém, “Tapi pan aing kudu ka nu kolot, Linta. Teu dikiliran mah meureun ngamuk…”

PEUTINGNA deui, cara sasarina, Mang Linta turun deui ka kali, rék nganco. Rét ka ranggon-ranggon ancoan nu séjén, angger paroék. Teuing mémang ngambeu galagat keur euweuh hurang, teuing kapangaruhan ku dongéng jurig peuting tadi. Nu écés, Mang Linta teu wanieun ieuh betus ka nu séjén ngeunaan kasaksiaanana peuting tadi. Mana komo barang nyaho mun nu dina parahu téh Pa Mantri Pulisi.

Cara peuting tadi, hurang téh euweuhan bae. Tapi Mang Linta teu putus harepan, terus bé nagen. Ras inget kana angkatan nu panungtungan peuting tadi, geuning rada mondoyot. Boa enya, hurang téh ayaanana ka
janarikeun, mun cai geus malik surut ka hilir. Sial, peuting tadi kasaréan.

Tengah peuting, geus kareureuwasan deui Mang Linta téh. Ti hilir aya deui parahu nu ngadeukeutan ranggonna. Malah ayeuna mah teu buang jangkar, tapi tuluy ka kolong ranggon. Teu lila gé nu ngawelahna
nyalukan. “Mang Linta…?” cenah, rada halon, sada awéwé.

Puguh bé Mang Linta téh ngadégdég. Bulu pundukna tingpuringkak. Beuki ratug baé dadana barang kadéngé aya nu nérékél naék kana ranggonna. Lol nu naék téh beungeutna kacaangan ku lampu gantung. Lipenna mani burahay.

“Dédéh…?” ceuk Mang Linta, barang mireungeuh nu datang téh pamajikan RT nu ngora. Dédéh kalah nyéréngéh. Mang Linta sawan kuya. “Rék naon manéh peuting-peuting kieu?”

“Beubeunangan tadi peuting?” témbal Dédéh, kalah malik nanya. “Kuatan, mani nepi ka subuh,” pokna deui, bari gék seselepét milu diuk dina ranggon. Pagégéyé. Mang Linta samar polah. Komo barang Dédéh némpélkeun biwirna kana ceulina bari ngaharéwos, “Ulah bébéja ka sasaha nya!” cenah
sumber : http://www.sumbercerita.com

#galau

#galau